KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN : APAKAH SORGA DAN NERAKA ITU ADA?

Dari penciptaan manusia, kejatuhan, kematian, kebangkitan, penghakiman, hingga kehidupan kekal

1. MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK KEHIDUPAN, BUKAN UNTUK KEMATIAN

•

Dasar pertama adalah penciptaan manusia: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.”— Kejadian 1:26.

•

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei). Dalam pemikiran Gereja Purba, ini sangat penting karena tujuan manusia bukan sekadar menjadi makhluk biologis, tetapi mengambil bagian dalam kehidupan Allah.

•

Kejadian 2:7 mengatakan: “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya.”

•

Manusia mempunyai dimensi jasmani dan rohani. Ia berasal dari tanah, tetapi hidup karena kehidupan yang berasal dari Allah.

•

Karena itu, manusia sejak awal diarahkan kepada kehidupan yang melampaui sekadar eksistensi biologis.

•

Secara teologis, manusia diciptakan untuk: mengenal Allah; mengasihi Allah; hidup dalam persekutuan dengan Allah; bertumbuh menuju keserupaan dengan Allah; mengambil bagian dalam kehidupan ilahi. 2 Petrus 1:4 bahkan menggunakan ungkapan yang sangat kuat: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi.”

•

Dalam tradisi Gereja Purba, gagasan ini kemudian dikembangkan dalam doktrin theosis (θέωσις)—manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan Allah oleh kasih karunia.

2. MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK KEKAL

•

Di sini perlu dibedakan antara: Allah itu kekal secara hakiki, sedangkan
manusia menerima kehidupan kekal sebagai karunia Allah.

•

Manusia bukan Allah dan bukan kekal secara mandiri.Allah saja yang memiliki kehidupan dalam diri-Nya. “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri...”— Yohanes 5:26

•

Namun manusia dipanggil untuk menerima kehidupan dari Allah. Yohanes 3:16: “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Jadi, kekekalan manusia bukan karena manusia secara independen memiliki sifat ilahi, melainkan karena manusia diciptakan untuk menerima kehidupan dari Allah.

3. KEMATIAN BUKAN TUJUAN ASAL PENCIPTAAN

•

Kejadian 1 berkali-kali menyatakan: “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”

•

Kematian bukan digambarkan sebagai tujuan penciptaan.

•

Sebaliknya, dalam Kejadian 2:16–17 Allah memberikan perintah: “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

•

Kemudian Kejadian 3 menceritakan masuknya dosa.

4. DOSA MEMASUKKAN KEMATIAN KE DALAM PENGALAMAN MANUSIA

•

Roma 5:12: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut…”

•

Perhatikan urutannya: dosa → maut

•

Bukan: Allah menciptakan manusia untuk mati → manusia berdosa.

•

Kematian merupakan konsekuensi tragis dari keterpisahan manusia dari sumber kehidupan.

•

Allah adalah kehidupan.

•

Ketika manusia menjauh dari Allah, ia memasuki keadaan yang berlawanan dengan kehidupan.

5. “SUPAYA IA JANGAN MENGULURKAN TANGANNYA…”

•

Kejadian 3:22–24 sangat penting: “jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.”

•

Manusia kemudian diusir dari taman Eden.

•

Secara teologis, ini menunjukkan paradoks: manusia diciptakan untuk hidup, tetapi dosa membawa manusia kepada kematian.

•

Kematian kemudian menjadi bagian dari kondisi manusia yang telah jatuh.

6. KEMATIAN ADALAH MUSUH

•

Paulus bahkan menyebut kematian sebagai musuh terakhir: “Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.”— 1 Korintus 15:26

•

Kalau kematian merupakan bagian normal dan ideal dari penciptaan, maka sulit menjelaskan mengapa Paulus menyebutnya musuh.

•

Kematian adalah sesuatu yang harus dikalahkan.

7. KRISTUS DATANG BUKAN SEKADAR UNTUK “MEMBAYAR DOSA”, TETAPI UNTUK MENGALAHKAN MAUT

•

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”
— Yohanes 1:14

•

Kristus mengambil kodrat manusia. Mengapa? Karena manusia yang mengalami kematian harus dipulihkan. Ibrani 2:14: “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut.”

•

Kristus masuk ke dalam kematian untuk menghancurkan kuasa kematian.

8. KEBANGKITAN KRISTUS ADALAH PUSAT HARAPAN MANUSIA

•

1 Korintus 15:20: “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.”

•

Kristus adalah “yang sulung”. Artinya, kebangkitan Kristus bukan peristiwa yang hanya menyangkut Kristus sendiri. Kebangkitan-Nya membuka jalan bagi kebangkitan manusia.

•

Yohanes 11:25: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”

9. MANUSIA MATI, TETAPI KEMATIAN BUKAN AKHIR

•

Kematian jasmani bukanlah akhir eksistensi manusia.

•

Yesus mengatakan: “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.”— Markus 12:27

•

Paulus juga mengatakan: “mati adalah keuntungan.”
— Filipi 1:21

•

Dan: “aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus—itu memang jauh lebih baik.”
— Filipi 1:23

•

Jadi terdapat kesinambungan eksistensi manusia setelah kematian.

•

Namun keadaan setelah kematian belum identik dengan keadaan akhir setelah kebangkitan universal.

10. ADA KEBANGKITAN UMUM

•

Yesus mengajarkan: “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” — Yohanes 5:28–29

•

Maka skema eskatologisnya: kematian → keadaan antara → kebangkitan tubuh → penghakiman → keadaan kekal.

•

Kekristenan tidak mengajarkan bahwa manusia akhirnya menjadi roh tanpa tubuh. Sebaliknya: tubuh juga akan dibangkitkan.

11. MANUSIA ADALAH MAKHLUK TUBUH DAN JIWA

•

Karena itu keselamatan bukan hanya “jiwa masuk surga.”

•

1 Korintus 15 berbicara panjang tentang kebangkitan tubuh.

•

Paulus mengatakan: “ditaburkan tubuh alamiah, dibangkitkan tubuh rohaniah.”— 1 Korintus 15:44

•

Maka keselamatan bersifat holistik: manusia seutuhnya dipulihkan.

12. PENGHAKIMAN TERAKHIR

•

Setelah kebangkitan terdapat penghakiman. Matius 25:31–32: “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya… Ia akan mengumpulkan semua bangsa di hadapan-Nya.”

•

Kemudian terjadi pemisahan: “Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.”
— Matius 25:33

•

Dan: “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”— Matius 25:46

•

Di sinilah muncul konsep: kehidupan kekal versus hukuman kekal.

13. LALU APAKAH SURGA?

•

Surga dalam Kitab Suci terutama menunjuk kepada persekutuan dengan Allah dan kehidupan dalam Kerajaan Allah.

•

Yesus berkata: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.”— Yohanes 14:2

•

Paulus berbicara tentang: “tinggal bersama-sama dengan Tuhan.”— 2 Korintus 5:8

•

Tujuan akhirnya bukan sekadar “mendapat tempat bagus.”

•

Tujuan akhirnya adalah: bersama Allah. Wahyu 21:3: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.”

14. SURGA PADA AKHIRNYA ADALAH PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH

•

Wahyu 21:4: “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi.”

•

Perhatikan urutannya: Allah bersama manusia → maut tidak ada lagi → penderitaan tidak ada lagi. Wahyu 21:23: “Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya.”

•

Dan Wahyu 22:4: “Mereka akan melihat wajah-Nya.” — kehidupan kekal = persekutuan dengan Allah.

15. LALU APAKAH NERAKA?

•

Neraka tidak perlu dipahami terutama sebagai sebuah “ruang bawah tanah” tempat Allah menyiksa manusia.

•

Allah tetap Allah. Kehadiran Allah tetap ada. Yang berubah adalah cara manusia mengalami kehadiran Allah.

•

Allah adalah kasih. 1 Yohanes 4:8: “Allah adalah kasih.” Namun kasih Allah dapat dialami secara berbeda oleh manusia.

•

Bagi orang yang mengasihi Allah: kehadiran Allah = sukacita.

•

Bagi manusia yang menolak Allah: kehadiran Allah = penderitaan.

16. ALLAH TETAP HADIR

•

Mazmur 139:7–8 mengatakan: “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau.” Jadi tidak ada wilayah di mana Allah “tidak ada”.

•

Karena itu dapat dikatakan: surga bukan tempat Allah berada sedangkan neraka tempat Allah tidak berada.

•

Sebaliknya: Allah hadir sebagai Allah yang sama.

17. MASALAHNYA ADALAH MANUSIA TERHADAP KEHADIRAN ALLAH

•

Bandingkan dua keadaan: Orang yang mengasihi Allah, Kehadiran Allah: kasih → sukacita → kehidupan → damai → persekutuan.

•

Orang yang menolak Allah; Kehadiran Allah: kasih yang sama → tetapi dialami sebagai penghakiman/penderitaan. Dengan demikian, perbedaan surga dan neraka bukan karena Allah berubah.

•

Allah tidak berubah. Yang berubah adalah keadaan manusia dalam relasinya dengan Allah.

18. API KEKAL

•

Alkitab menggunakan simbol api. Matius 25:41: “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal…”

•

Markus 9:48: “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.”

•

Wahyu 20:14: “Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api.”

•

Bahasa seperti api, kegelapan, ratapan, kertak gigi harus dibaca dalam kerangka bahasa eskatologis dan simbolis Alkitab, bukan buru-buru dibayangkan sebagai deskripsi fisika mengenai lokasi neraka.

19. “KEGELAPAN” DAN “API” BUKAN KONTRADIKSI SEDERHANA

•

Alkitab menggunakan beberapa gambaran: api, kegelapan, ratapan
kertak gigi, kematian kedua, kehancuran, pemisahan

•

Misalnya Matius 8:12: “dibuang ke dalam kegelapan yang paling gelap; di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

•

Sementara Matius 25:41 berbicara tentang api kekal.

•

Karena itu bahasa neraka dalam Kitab Suci tidak harus diperlakukan seperti koordinat geografis.

•

Bahasa tersebut menyatakan realitas penghakiman dan penderitaan akhir manusia yang terpisah dari kehidupan Allah.

20. NERAKA BUKAN KARENA ALLAH BERHENTI MENGASIHI

•

Allah tidak menjadi kurang kasih terhadap orang yang berada dalam penghukuman. Roma 5:8: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”

•

Problemnya bukan: “Allah tidak lagi mengasihi manusia.”

•

Melainkan: manusia tidak dapat hidup dalam persekutuan dengan Allah tanpa mengalami perubahan dirinya.

21. THEOSIS: TUJUAN AKHIR MANUSIA

•

Tujuan manusia bukan sekadar: “mati → masuk surga.”

•

Tujuannya adalah: manusia dipersatukan dengan Allah oleh kasih karunia dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. 2 Petrus 1:4: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi.”

•

Paulus: “supaya Kristus menjadi semua di dalam semua.” — Kolose 3:11

•

Dan 1 Yohanes 3:2: “kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.”

22. BUKAN MENJADI ALLAH SECARA HAKIKAT

•

Bukan berarti manusia berubah menjadi Allah menurut esensi.

•

Allah tetap Pencipta. Manusia tetap ciptaan.

•

Tetapi manusia mengambil bagian dalam kehidupan Allah melalui kasih karunia.

•

Tradisi Gereja Purba biasanya menjelaskan: ousia → hakikat/esensi Allah, yang tidak dapat diakses ciptaan. energeiai → karya/energi Allah yang melaluinya manusia mengambil bagian dalam kehidupan Allah.

•

Dengan demikian: manusia tidak menjadi Allah menurut esensi, tetapi mengambil bagian dalam kehidupan ilahi oleh kasih karunia.

23. SURGA DAN NERAKA DALAM KERANGKA INI

Maka kita dapat membuat konstruksi sederhana:

24. JADI APAKAH MANUSIA “TIDAK MATI”?

•

Di sini kita harus membuat pembedaan.

•

Manusia dapat mati secara biologis. Tetapi manusia tidak berhenti menjadi manusia.

•

Kematian bukan annihilation—bukan berarti manusia lenyap menjadi tidak ada.

•

Karena itu lebih tepat mengatakan: manusia diciptakan untuk kehidupan, dan kematian merupakan musuh yang masuk melalui dosa; tetapi melalui Kristus kematian dikalahkan dan manusia dipanggil kepada kebangkitan serta kehidupan kekal.

•

Ini lebih akurat daripada mengatakan: “manusia pada dasarnya sudah memiliki keabadian seperti Allah.”

25. KEBANGKITAN LEBIH PENTING DARIPADA SEKADAR “JIWA KE SURGA”

•

Ini merupakan salah satu titik yang sangat penting untuk materi pengajaran.

•

Kekristenan bukan: mati → jiwa terbang ke surga → selesai.

•

Melainkan: mati → menantikan kebangkitan → Kristus datang kembali → kebangkitan tubuh → penghakiman → kehidupan kekal.

•

1 Korintus 15 adalah dasar utama. Paulus bahkan mengatakan: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” — 1 Korintus 15:17

•

Dan: “Jika kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.” — 1 Korintus 15:19

26. LANGIT DAN BUMI BARU

•

Tujuan akhir bukan manusia meninggalkan ciptaan dan selamanya tinggal di alam spiritual.

•

Wahyu 21:1: “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru.”

•

Ini sangat penting. Kisah keselamatan bergerak: Eden → kejatuhan → Kristus → Gereja → kebangkitan → langit dan bumi baru.

•

Dengan demikian, keselamatan memiliki dimensi kosmik.

•

Roma 8:21: “makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.”

27. DARI EDEN MENUJU CIPTAAN BARU

Ada hubungan yang sangat indah:

Kejadian 1–2

manusia berada dalam ciptaan yang baik.

↓

Kejadian 3

dosa dan kematian.

↓
Injil

Kristus memasuki dunia yang jatuh.

↓
Salib

Kristus memasuki kematian.

↓
Kebangkitan

kematian dikalahkan.

↓
Wahyu 21–22

ciptaan baru.

↓

Allah diam bersama manusia.

Dengan demikian, akhir sejarah bukan sekadar:

“manusia pergi ke surga.”

Tetapi:

Allah memulihkan ciptaan dan tinggal bersama manusia.

28. PEMAHAMAN KUNCI

•

Manusia diciptakan menurut gambar Allah dan dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan Allah.

•

Kematian bukan tujuan awal penciptaan, melainkan masuk ke dalam pengalaman manusia melalui dosa dan keterpisahan dari Allah, sehingga kematian menjadi musuh manusia.

•

Dalam inkarnasi, Kristus mengambil kodrat manusia, masuk ke dalam kematian, dan melalui kebangkitan-Nya menghancurkan kuasa maut.

•

Karena itu manusia tidak diciptakan untuk berakhir dalam kematian, tetapi untuk kebangkitan dan kehidupan kekal.

•

Pada penghakiman terakhir manusia akan mengalami kepenuhan relasinya dengan Allah: bagi mereka yang hidup dalam persekutuan dengan-Nya, kehadiran Allah menjadi kehidupan dan sukacita; bagi mereka yang menolak-Nya, kehadiran Allah dialami sebagai penghakiman dan penderitaan.

•

Dengan demikian, surga dan neraka pada akhirnya berkaitan dengan cara manusia mengalami kehadiran Allah yang kekal.

29. AYAT-AYAT UTAMA

Tahap Keadaan manusia
Penciptaan manusia diciptakan menurut gambar Allah
Tujuan persekutuan dengan Allah
Panggilan menuju keserupaan dengan Allah
Kejatuhan dosa
Akibat maut
Inkarnasi Kristus mengambil kodrat manusia
Salib Kristus masuk ke dalam kematian
Kebangkitan Kristus menghancurkan kuasa maut
Kehidupan Gereja manusia mengambil bagian dalam kehidupan Kristus
Kematian pemisahan sementara jiwa dan tubuh
Kebangkitan manusia dibangkitkan
Penghakiman manusia berdiri di hadapan Allah
Kehidupan kekal persekutuan dengan Allah
Neraka keadaan manusia yang menolak kehidupan Allah
Tujuan akhir kehidupan kekal dalam Kerajaan Allah
Tema Ayat utama
Manusia sebagai gambar Allah Kej. 1:26–27
Manusia menerima kehidupan Kej. 2:7
Pohon kehidupan Kej. 2:9
Kematian dan dosa Kej. 2:17
Kejatuhan Kej. 3
Kehilangan akses kepada pohon kehidupan Kej. 3:22–24
Dosa masuk melalui Adam Rm. 5:12
Upah dosa adalah maut Rm. 6:23
Allah adalah kehidupan Yoh. 11:25; 14:6
Inkarnasi Yoh. 1:14
Kristus mengambil daging Ibr. 2:14
Kristus menghancurkan maut Ibr. 2:14–15
Kebangkitan Kristus 1Kor. 15:20
Kebangkitan manusia 1Kor. 15:12–58
Kebangkitan tubuh Yoh. 5:28–29
Hidup setelah kematian Flp. 1:21–23
Bersama Kristus 2Kor. 5:8
Penghakiman Mat. 25:31–46
Kehidupan kekal Yoh. 3:16
Api kekal Mat. 25:41
Hukuman kekal Mat. 25:46
Kegelapan Mat. 8:12
Lautan api Why. 20:10–15
Ciptaan baru Why. 21:1
Allah tinggal bersama manusia Why. 21:3
Tidak ada maut Why. 21:4
Melihat wajah Allah Why. 22:4
Mengambil bagian dalam kodrat ilahi 2Ptr. 1:4
Pembebasan ciptaan Rm. 8:19–23