PRAKTIK MENAFSIR DAN MENGKHOTBAHKAN KITAB-KITAB INJIL
Kelas BPD Gereja Bethel Indonesia DI Jakarta, 10 Mei 2025
KEDUDUKAN KITAB-KITAB PERJANJIAN BARU
- Beberapa hal prinsip, yang harus dipahami:
- Lisan selalu lebih dahulu terjadi daripada tertulis, apalagi bila itu merupakan laporan peristiwa. Pasti sebagai sebuah urutan: [1] peristiwa → [2] lisan → [3] tulisan
- Tulisan selalu merupakan sebuah karya yang ada maksud dan peruntukannya.
- Sesuatu ditulis (menjadi ditulis dan tertulis), karena dianggap sangat penting bagi penulisnya, entah itu bagi dirinya secara pribadi maupun kelompok.
- Dari mana kita harus mulai pembahasan tentang kitab-kitab dalam Perjanjian Baru? Dari kronologi abad pertama, yakni Yesus yang kemudian dilanjutkan oleh para murid-murid Yesus/ para rasul: [1] peristiwa-peristiwa Yesus → [2] peristiwa-peristiwa para rasul → [3] laporan-laporan tentang Yesus dan para rasul.
- Perlu dipahami bahwa 27 kitab Perjanjian Baru seperti yang kita miliki sekarang ini disusun bukan secara kronologis, melainkan secara tematis.
- Dua kelompok besar genre kitab-kitab Perjanjian baru adalah [1] kitab-kitab surat, yang tak lain memang surat; dan [2] kitab-kitab injil, yang tak lain merupakan ‘biografi,’ yang lahir dari keyakinan dan pemahaman kelompok-kelompok jemaat atau komunitas.
- Injil menurut Komunitas Matius:
- Dominan Kristen Yahudi (Jewish Christian):
- Penekanan pada Penggenapan Nubuat Perjanjian Lama: Matius sangat menekankan bagaimana Yesus menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama (PL). Frasa seperti “supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi” muncul berulang kali. Ini menunjukkan audiens yang sangat akrab dan menghargai otoritas Kitab Suci Ibrani.
- Yesus sebagai Mesias Yahudi: Matius menggambarkan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan kepada Israel, keturunan Daud dan Abraham (silsilah di awal Injil).
- Yesus sebagai Musa yang Baru: Struktur Injil Matius dengan lima blok pengajaran utama (misalnya Khotbah di Bukit) sering dilihat sebagai paralel dengan lima kitab Taurat Musa. Yesus ditampilkan sebagai pemberi hukum yang lebih tinggi.
- Penggunaan Istilah Yahudi: Penggunaan istilah seperti “Kerajaan Sorga” (bukan “Kerajaan Allah” seperti di Injil lain) mungkin merupakan cara Yahudi untuk menghindari penyebutan nama Allah secara langsung.
- Konteks Pasca-Kehancuran Bait Suci (sekitar 70 M):
- Banyak pakar menempatkan penulisan Injil Matius setelah kehancuran Bait Suci di Yerusalem. Peristiwa ini menjadi krisis besar bagi Yudaisme. Injil Matius mungkin ditulis untuk membantu komunitas Kristen Yahudi memahami identitas mereka dalam konteks baru ini, di mana Bait Suci tidak lagi menjadi pusat ibadah.
- Yesus sebagai Bait Suci yang baru atau kehadiran Allah yang sejati di tengah umat-Nya menjadi penting.
- Konflik dengan Yudaisme Rabinik yang Berkembang:
- Injil Matius menunjukkan ketegangan dan polemik yang tajam dengan para pemimpin Yahudi pada masanya (ahli Taurat dan orang Farisi). Ini mungkin mencerminkan konflik nyata yang dialami jemaat Matius dengan sinagoga lokal yang tidak menerima Yesus sebagai Mesias.
- Ada perdebatan tentang interpretasi Taurat dan siapa yang menjadi pewaris sejati tradisi Israel. Matius berargumen bahwa pengikut Yesus adalah Israel yang sejati.
- Kebutuhan akan Identitas dan Otoritas:
- Jemaat Matius tampaknya sedang berjuang untuk mendefinisikan identitasnya sebagai komunitas pengikut Yesus, yang berbeda dari Yudaisme arus utama namun tetap berakar dalam tradisi Israel.
- Yesus ditampilkan sebagai guru yang berotoritas, yang ajarannya (misalnya, dalam Khotbah di Bukit) harus ditaati.
- Penekanan pada Pengajaran (Didache) dan Ketaatan:
- Injil Matius sangat menekankan pentingnya melakukan kehendak Bapa dan menaati perintah-perintah Yesus. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 7:21).
- Injil ini berfungsi sebagai semacam “manual” atau panduan bagi kehidupan jemaat.
- Ketegangan antara Partikularisme Yahudi dan Universalisme Misi kepada Bangsa-Bangsa:
- Di satu sisi, ada fokus awal pada “domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 10:5-6; 15:24).
- Namun, Injil ini diakhiri dengan Amanat Agung untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus (Matius 28:19-20). Ini menunjukkan bahwa jemaat Matius, meskipun berakar Yahudi, juga mulai merangkul misi kepada orang-orang non-Yahudi.
- Komunitas yang Terorganisir dengan Keprihatinan Pastoral:
- Adanya petunjuk tentang disiplin jemaat (Matius 18) dan peran Petrus (Matius 16:18-19) menunjukkan adanya struktur dan keprihatinan pastoral dalam komunitas ini.
- Istilah “gereja” (ekklesia) hanya muncul dalam Injil Matius di antara Injil-Injil Sinoptik.
- Dominan Kristen Yahudi (Jewish Christian):
Singkatnya, jemaat Matius kemungkinan besar adalah komunitas Kristen yang mayoritas anggotanya berlatar belakang Yahudi. Mereka menghargai warisan Perjanjian Lama, tetapi sedang bergumul dengan identitas baru mereka dalam Kristus, terutama dalam konteks hubungan yang menegang dengan Yudaisme non-mesianik pasca kehancuran Bait Suci. Injil Matius ditulis untuk menguatkan iman mereka, memberikan pengajaran otoritatif dari Yesus, dan memandu mereka dalam kehidupan berjemaat serta misi mereka.
- Injil menurut Komunitas Markus:
Mirip dengan Injil Matius, Injil Markus juga diyakini oleh para pakar Alkitab ditulis untuk sebuah komunitas jemaat Kristen tertentu dengan kebutuhan dan konteks yang khas. Meskipun identitas pasti dan lokasi jemaat ini tidak disebutkan secara eksplisit, analisis terhadap teks Injil Markus memberikan petunjuk mengenai pemahaman dan situasi mereka:
- Kemungkinan Besar Jemaat Non-Yahudi (Gentile):
- Penjelasan Adat Istiadat Yahudi: Markus sering menjelaskan adat istiadat Yahudi (misalnya, Markus 7:3-4 tentang pembasuhan tangan) dan menerjemahkan frasa-frasa Aram (bahasa yang umum digunakan di Palestina pada zaman Yesus, misalnya, “Talita kum” di Markus 5:41; “Efata” di Markus 7:34; “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” di Markus 15:34). Ini menunjukkan bahwa audiensnya mungkin tidak akrab dengan praktik dan bahasa Yahudi, yang mengarah pada kesimpulan bahwa mereka adalah jemaat non-Yahudi, atau setidaknya mayoritas non-Yahudi.
- Penggunaan Istilah Latin: Markus menggunakan beberapa kata Latin (misalnya, legion, denarius, praetorium), yang mungkin menunjukkan bahwa jemaat tersebut berada di wilayah Kekaisaran Romawi di mana bahasa Latin memiliki pengaruh, seperti Roma itu sendiri.
- Menghadapi Penderitaan atau Penganiayaan:
- Penekanan pada Penderitaan Yesus: Injil Markus sangat menekankan penderitaan Yesus. Narasi sengsara-Nya (Passion Narrative) mendominasi bagian akhir Injil. Yesus digambarkan sebagai Mesias yang menderita.
- Panggilan untuk Memikul Salib: Yesus secara eksplisit memanggil murid-murid-Nya untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia (Markus 8:34). Tema kemuridan yang menuntut pengorbanan dan kesiapan menderita sangat kuat.
- Ini sangat relevan jika jemaat Markus sedang mengalami atau menghadapi ancaman penganiayaan (tradisi kuat menghubungkan Injil Markus dengan Roma, di mana penganiayaan terhadap orang Kristen terjadi, misalnya di bawah Kaisar Nero sekitar tahun 64 M). Pesan Injil ini akan menguatkan mereka untuk tetap setia meskipun dalam kesulitan.
- Kebutuhan akan Pemahaman Identitas Yesus yang Sebenarnya:
- “Rahasia Mesianik” (Messianic Secret): Yesus dalam Injil Markus seringkali memerintahkan roh-roh jahat, orang-orang yang disembuhkan-Nya, dan bahkan murid-murid-Nya untuk tidak memberitahukan siapa Dia sebenarnya. Ini mungkin untuk melawan pemahaman yang salah tentang Mesias (misalnya, sebagai pemimpin politik-militer) dan untuk menekankan bahwa identitas sejati Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah hanya dapat dipahami sepenuhnya melalui salib-Nya.
- Gelar “Anak Allah”: Meskipun ada “Rahasia Mesianik,” gelar “Anak Allah” sangat penting dalam Injil Markus, muncul di awal (1:1), diucapkan oleh Allah sendiri saat pembaptisan (1:11) dan transfigurasi (9:7), dan diakui oleh kepala pasukan Romawi di bawah salib (15:39). Ini menegaskan identitas ilahi Yesus bagi jemaat.
- Panggilan untuk Murid yang Setia dan Berani:
- Kegagalan Murid: Markus secara jujur menggambarkan kegagalan murid-murid Yesus untuk memahami-Nya, kurangnya iman mereka, dan akhirnya penyangkalan serta pelarian mereka saat Yesus ditangkap. Ini bisa berfungsi sebagai peringatan bagi jemaat agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan juga sebagai penghiburan bahwa bahkan mereka yang gagal pun masih bisa dipulihkan.
- Akhir yang Mengejutkan (Markus 16:8): Akhir Injil Markus yang paling awal (16:8) menggambarkan para perempuan yang lari dari kubur kosong dengan ketakutan dan tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun. Ini bisa menjadi tantangan bagi pembaca/jemaat: Akankah kalian tetap diam karena takut, ataukah kalian akan memberitakan kabar baik kebangkitan Yesus? Ini mendorong respons aktif dari jemaat.
- Tradisi Lisan yang Kuat dan Gaya Narasi yang Hidup:
- Gaya penulisan Markus yang cepat, penuh aksi (kata “segera” atau euthus sering muncul), dan langsung seringkali dianggap mencerminkan tradisi lisan yang hidup, mungkin berdasarkan kesaksian Petrus (seperti yang disebutkan oleh tradisi gereja awal melalui Papias). Injil ini mungkin dimaksudkan untuk dibacakan dengan lantang dalam pertemuan jemaat.
Secara ringkas, jemaat Markus kemungkinan besar adalah komunitas Kristen yang didominasi oleh orang non-Yahudi, yang mungkin berlokasi di Roma, dan sedang menghadapi tekanan atau penganiayaan. Injil Markus ditulis untuk menguatkan iman mereka dengan menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa namun juga Mesias yang menderita, dan bahwa mengikuti-Nya berarti siap memikul salib. Injil ini menantang mereka untuk menjadi murid yang setia dan berani memberitakan Injil meskipun dalam kesulitan.
- Injil menurut Komunitas Yohanes:
Jemaat Yohanes, atau komunitas yang menjadi audiens utama Injil Yohanes dan Surat-surat Yohanes (1, 2, dan 3 Yohanes), memiliki karakteristik dan pemahaman yang cukup unik dibandingkan dengan komunitas-komunitas yang menjadi sasaran Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas). Para pakar merekonstruksi pemahaman mereka berdasarkan penekanan dan tema dalam tulisan-tulisan Yohanes:
- Kristologi yang Sangat Tinggi (High Christology):
- Keilahian Yesus yang Ditekankan: Injil Yohanes dimulai dengan pernyataan bahwa Yesus adalah Firman (Logos) ilahi yang telah ada bersama Allah sejak kekal dan adalah Allah (Yohanes 1:1, 14). Ini adalah penekanan yang jauh lebih eksplisit pada keilahian Yesus dibandingkan Injil Sinoptik.
- “Aku Adalah” (Ego Eimi) Sayings: Yesus menggunakan frasa “Aku adalah” (misalnya, “Akulah roti hidup,” “Akulah terang dunia,” “Akulah pintu,” “Akulah gembala yang baik,” “Akulah kebangkitan dan hidup,” “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup,” “Akulah pokok anggur yang benar”) yang mengingatkan pada penyataan nama Allah kepada Musa (Keluaran 3:14). Ini mengklaim identitas ilahi.
- Kesatuan dengan Bapa: Yesus berulang kali menyatakan kesatuan-Nya dengan Bapa (“Aku dan Bapa adalah satu,” Yohanes 10:30).
- Mengalami Pemisahan yang Menyakitkan dari Sinagoga:
- “Orang-orang Yahudi” (hoi Ioudaioi): Istilah ini dalam Injil Yohanes seringkali merujuk bukan kepada semua orang Yahudi, tetapi lebih spesifik kepada otoritas Yahudi yang menentang Yesus dan para pengikut-Nya.
- Dikeluarkan dari Sinagoga: Injil Yohanes menyebutkan orang-orang yang takut mengakui Yesus karena khawatir akan “dikeluarkan dari sinagoga” (Yohanes 9:22; 12:42; 16:2). Ini menunjukkan bahwa komunitas Yohanes mungkin telah mengalami pengucilan dari komunitas Yahudi lokal. Ini adalah pengalaman formatif yang penting.
- Dualisme yang Khas: Injil Yohanes sering menggunakan kontras dualistik untuk menjelaskan realitas rohani: terang vs. gelap, kebenaran vs. dusta, hidup vs. mati, atas vs. bawah, Roh vs. daging. Jemaat ini melihat dunia dalam kerangka pertentangan ini, dengan Yesus sebagai perwujudan terang, kebenaran, dan hidup dari atas.
- Penekanan pada “Percaya” (Pisteuein) dan “Mengenal” (Ginoskein):
- “Percaya” dalam Yohanes bukan sekadar persetujuan intelektual, tetapi komitmen pribadi yang mendalam dan hubungan yang hidup dengan Yesus, yang menghasilkan “hidup kekal” (Yohanes 3:16, 20:31).
- “Mengenal” Allah dan Yesus Kristus adalah inti dari hidup kekal (Yohanes 17:3). Ini adalah pengenalan yang bersifat relasional dan transformatif.
- Peran Roh Kudus sebagai Parakletos (Penghibur/Penolong): Setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus akan datang sebagai Parakletos untuk mengajar, mengingatkan, bersaksi tentang Yesus, dan menghibur jemaat (Yohanes 14-16). Ini memberikan jaminan kehadiran ilahi yang berkelanjutan bagi komunitas yang mungkin merasa terisolasi.
- Etika Kasih sebagai Tanda Pengenal Komunitas: Perintah baru yang diberikan Yesus adalah untuk saling mengasihi, sebagaimana Ia telah mengasihi mereka (Yohanes 13:34-35). Kasih ini menjadi ciri khas murid-murid Yesus dan fondasi kehidupan komunitas Yohanes.
- Konflik Internal (tercermin dalam Surat-surat Yohanes):
- Surat-surat Yohanes (khususnya 1 Yohanes) mengindikasikan adanya perpecahan dalam komunitas. Beberapa anggota telah meninggalkan komunitas dan mengajarkan pandangan yang berbeda tentang Yesus (misalnya, menyangkal bahwa Yesus datang dalam daging – sebuah bentuk awal dosetisme atau gnostisisme).
- Penulis surat berjuang untuk menegaskan kembali ajaran yang benar tentang Kristus dan pentingnya kasih serta ketaatan.
- Komunitas yang Terbentuk di Sekitar “Murid yang Dikasihi Yesus”: Sosok “murid yang dikasihi Yesus” (Yohanes 13:23, 19:26, dll.) dianggap sebagai sumber tradisi dan otoritas di balik Injil ini. Komunitas ini sangat menghargai kesaksiannya.
Secara keseluruhan, jemaat Yohanes adalah komunitas yang memiliki pemahaman teologis yang mendalam dan reflektif tentang Yesus Kristus, menekankan keilahian-Nya dan hubungan pribadi dengan-Nya. Mereka kemungkinan besar telah mengalami perpisahan yang sulit dari Yudaisme tradisional dan berjuang untuk mempertahankan identitas serta kesatuan mereka di tengah tekanan eksternal dan tantangan internal. Injil dan Surat-surat Yohanes ditulis untuk menguatkan iman mereka, memberikan dasar teologis, dan menuntun mereka dalam kehidupan berjemaat yang didasarkan pada kasih dan kebenaran.









