JANGAN TERBALIK-BALIK MENYELENGGARAKAN IBADAH!

Pada umumnya ibadah gereja dikelompokkan menjadi dua, [1] Ibadah Raya, disebut juga dengan istilah Kebaktian Umum, Ibadah Minggu, yakni ibadah umum yang diselenggarakan di hari Minggu; dan [2] Ibadah Kategorial, yaitu ibadah yang diselenggarakan berdasarkan kategori-kategori tertentu, antara lain:

  1. KATEGORI UMUR/ USIA, seperti Ibadah Sekolah Minggu dengan kelompok kelas usianya: Kelas Batita, Kelas Balita, Kelas Pratama, Kelas Indira, Kelas Madya, Kelas Tunas Remaja, Kelas Remaja (teens); Kelas Pemuda; Kelas Dewasa Muda, dan seterusnya), juga Ibadah Lanjut Usia (Lansia), Ibadah Manula.
  2. KATEGORI JENIS KELAMIN, seperti Ibadah Kaum Pria, Ibadah Kaum Wanita.
  3. KATEGORI PERUNTUKAN ATAU TUJUAN IBADAH, seperti Ibadah Doa, Ibadah Pembelajaran Alkitab (Ibadah PA), Ibadah Kelompok Sel (Komsel).

Yang sering terjadi adalah ibadah-ibadah diselenggarakan secara terbalik-balik, bisa jadi karena kurangnya pemahaman terhadap prinsip penyelenggaraan ibadah atau juga ketidaksiapan penyelenggara ibadah serta ketidaksiapan para pelayan ibadah. Sebagai contoh, Ibadah Kelompok Sel (Ibadah Komsel) yang ide dasarnya adalah ‘ibadah kebersamaan‘ dengan suasana ‘ringan‘ oleh jemaat-jemaat pada sektor atau wilayah yang setempat, yang mana setiap jemaat yang hadir diharapkan dapat bercerita, berbicara, bercerita pengalaman hidupnya dalam keseharian, -malah dibuat sebagai Ibadah Pembelajaran Alkitab dengan topik yang cukup berat, hingga hanya orang-orang tertentu saja yang mendominasi pembicaraan pada acara itu, dan jemaat-jemaat lain hanya menjadi diam, tidak menjadi terlibat aktif. Contoh lain, yang seharusnya itu merupakan Ibadah Pembelajaran Alkitab (Ibadah PA), yang mana harus ada materi yang terlebih dahulu dipersiapkan secara proporsional, yang mana waktu yang digunakan seharusnya lebih banyak untuk pembahasan materi, tanya jawab, -malah sepanjang waktu yang ada dibuat sebagai Ibadah Doa, Pujian dan Penyembahan. Begitu juga misal yang seharusnya Ibadah Umum, namun topik untuk pemberitaan Firman Tuhan adalah “Cara Menemukan Pasangan Hidup,” sedangkan sebagian besar jemaat yang hadir pada ibadah umum tersebut merupakan jemaat yang sudah berkeluarga -tentu itu tidak tepat! Ini bukan soal boleh atau tidak boleh, melainkan soal tepat atau tidak tepat, yang risikonya adalah apakah jemaat yang hadir mendapat kesempatan dilibatkan dalam ibadah tersebut ataukah tidak.

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan agar setiap ibadah dapat diselenggarakan secara tepat:

  1. Jika itu IBADAH UMUM, Ibadah Raya, Kebaktian Umum di hari Minggu, prioritaskan pada keterlibatan semua golongan jemaat, baik yang muda, dewasa, lansia, manula, berpendidikan rendah, menengah, tinggi. Lagu-lagu pujian haruslah lagu-lagu yang umum, dalam pengertian diketahui dan dapat dinyanyikan oleh semua golongan jemaat. Suasana ibadah buatlah sebagai suasana yang umum dan wajar. Topik Firman Tuhan juga harus dipilih dan didesain sebagai topik yang umum, yang meruapakan topik-topik seputar persoalam mendasar manusia secara umum, dan sampaikan dengan bahasa sederhana dengan gestur pelayan jemaat, -bukan dengan gestur artis, selebritis, atau komedian.
  2. Jika itu IBADAH KATEGORIAL, perhatikan  dan penuhi kategori utamanya, karena ibadah kategorial selalu ada yang ditonjolkan untuk dipenuhi!
      • IBADAH KELOMPOK SEL (KOMSEL); ide dasar ibadah komsel adalah sharing pengalaman kehidupan, kebersamaan, ramah-tamah, saling menyapa, saling memperhatikan, saling mendoakan. Renungan Firman Tuhan laksanakan secara sederhana, -boleh dan justru baik apabila  dilaksanakan pada sesi akhir setelah sharing sebagai penutup yang menyentuh seluruh jemaat yang hadir dengan sebuah refleksi. Jika dalam ibadah Komsel anda, tidak semua jemaat yang hadir berbicara, diam saja, hanya sebagian saja yang berbicara, atau bahkan orang-orang tertentu saja yang selalu berbicara, maka pelaksanaan ibadah komsel anda perlu dievaluasi. Jangan-jangan anda telah menggantinya dengan Ibadah Pendalaman Alkitab dengan topik yang begitu berat.
      • IBADAH PEMBELAJARAN ALKITAB (PA); ide dasar penyelanggaraan Ibadah PA adalah memberi kesempatan bagi jemaat yang memiliki minat belajar,  untuk belajar dan bertanya-jawab atas satu topik yang sedang diagendakan untuk dibahas. Perlu diketahui bahwa dalam kenyataannya tidak semua jemaat memiliki minat untuk belajar tentang hal-hal teologis, -bisa jadi ‘tidak berminat‘ atau juga ‘belum berminat.‘ Agar kelompok jemaat yang memiliki minat belajar dan pemikiran kritis memiliki forum belajar, untuk itulah Ibadah PA perlu diselenggarakan. Itu juga menjadi alasan mengapa Ibadah Komsel tidak boleh dijadikan sebagai Ibadah PA, -ya karena tidak semua jemaat yang hadir pada Ibadah Komsel, tidak semua memiliki minat belajar secara khusus. Justeru pada Ibadah PA, kesempatan tanya-jawab harus dibuka seluas-luasnya. Oleh sebab itu pemimpin Ibadah PA haruslah orang yang telah memperisapkan diri atas pokok materi.
      • IBADAH SEKOLAH MINGGU; ide dasar Ibadah Sekolah Minggu adalah memperkenalkan Tuhan dalam setiap kelompok usia, oleh sebab itu gereja harus punya dan menerapkan kurikulum Sekolah Minggu. Strategi mengajar Sekolah Minggu harus dimiliki, perhatikan dan gunakan Taksonomi Bloom, itu akan sangat membantu.
      • IBADAH LANSIA, MANULA, ide dasarnya adalah penguatan terhadap jemaat di usia tua, bahkan lanjut usia. Oleh sebab itu topik-topik Firman Tuhan harus benar-benar dipikirkan dan dipilih, pastikan cocok untuk lansia.