ETIKA SESAMA PENGKHOTBAH DALAM SATU GEREJA LOKAL

Para pengkhotbah dalam satu gereja lokal, -siapapun dia, baik pendeta gembala senior, pelayan senior, maupun pelayan yang baru saja terlibat dalam pelayanan, -setiap mereka wajib menjunjung tinggi dan melaksanakan etika berkhotbah. Berkhotbah bukan sekedar public speaking, -bukan  stand-up comedy, -bukan juga ajang menunjukkan diri dan kemampuan-kemampuan diri, tahu banyak tentang ini itu, tahu bahasa asli, tahu dan hafal banyak ayat, dan sebagainya. Berkhotbah adalah menyampaikan Firman Tuhan, menyampaikan ‘isi hati Tuhan’ secara proporsional kepada jemaat.

Seorang pengkhotbah yang berada di mimbar dan berbicara, berpotensi menjadi lupa diri, -merasa mimbar itu adalah ‘panggung’ miliknya, -sehingga ia merasa boleh bicara apa saja, hingga mengumbar ‘nafsu bicara,’ menyerang orang lain, menjatuhkan pengkhotbah lain, berbicara politik praktis, menggiring opini jemaat untuk membangkitkan stigma politik tertentu, mengkritik pemerintah dan macam-macam. Jelas ini merupakan pelanggaran atas ilmu berkhotbah (homiletik) dan merupakan perbuatan kotor dan keji yang tidak selayaknya ada di mimbar khotbah Gereja. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh sesama pengkhotbah dalam satu gereja lokal, yang selanjutnya menjadi etika bersama para pengkhotbah dalam satu gereja lokal:

1. SALING PERCAYA, SALING MENDUKUNG, TIDAK SALING MENJATUHKAN

Bagaimana anda sebagai pengkotbah (apalagi merasa diri sebagai senior) memandang pengkhotbah lain di gereja anda? Apakah anda memandangnya sebagai bawahan anda? Saingan anda? Ataukah, rekan sekerja anda? Jika anda menganggap mereka sebagai rekan sekerja anda dalam pelayanan jemaat, hal pertama yang harus anda lakukan terhadap mereka adalah mempercayai dan mendukung mereka. Bukti bahwa anda mempercayai dan mendukung mereka adalah ‘tidak  menjatuhkan‘ -baik secara diam-diam, maupun secara terang-terangan di depan jemaat. Jika anda menganggap rekan-rekan pelayan sebagai ‘tim pelayanan‘ atau ‘tim penggembalaan‘ atau apapun namanya, buktikan bahwa anda tidak menganggap mereka sebagai ‘outsider,‘ buktikan bahwa anda menaruh percaya bahwa khotbah yang disampaikan adalah baik dan benar untuk jemaat. Bisa jadi satu kesalahan dilakukan oleh pengkhotbah di tengah penyampaian khotbahnya, seperti keliru secara teologis, kurang tepat dalam hal teknis penyampaian, kurang lengkap dalam penjelasan. Itu semua bisa terjadi. Namun, jika anda mengaku diri sebagai rekan sekerja, selayaknya anda menutupi kekurangan rekan anda di hadapan jemaat, -bukan malah mengeksposenya atau malah membatalkan khotbah rekan anda, apalagi dengan membuat lagi segudang pertanyaan yang malah membuat jemaat menjadi bingung. Yang anda lakukan sebenarnya adalah membangun stigma pada jemaat, bahwa si pengkhotbah telah gagal, tidak kompeten, dan andalah yang tampil sebagai sang jagoannya.

Jika terjadi ‘perbedaan pendapat‘ atas suatu topik, pokok pikiran, doktrin, -hendaknya diskusikan internal di antara para pengkhotbah, BUKAN DI DEPAN JEMAAT pada saat ibadah berlangsung, apalagi hanya dengan motif untuk menunjukkan kesalahan si pengkhotbah di depan jemaat. Tunjukkan bahwa diri anda adalah seorang yang bermartabat dan terpelajar, apalagi menganggap pengkhotbah sebagai rekan sekerja, bukan sebagai seorang yang urakan.

 

2. JANGAN BIASAKAN DIRI ‘LANCANG’ MENGOMENTARI KHOTBAH PENGKHOTBAH LAIN, APALAGI MEMBATALKANNYA

Pengkhotbah perlu memiliki sikap rendah hati, mendengar khotbah orang lain. Jangan biasakan diri selalu ‘lancang’ mengomentari khotbah pengkhotbah lain, -mencari-cari kesalahan, kekurangan khotbah, apalagi di depan jemaat dan secara langsung, anda ‘membatalkan’ khotbah yang sudah disampaikan pengkhotbah lain sebelumnya. Itu jelas adalah sikap arogan! Sadarlah bahwa setiap pengkhotbah sebelum dia berkhotbah, dia juga melakukan persiapan, berdoa, membuka dan membaca literatur, menyediakan waktu, pikiran, membuat presentasi dan sebagainya. Hargai itu, apalagi jika katanya anda menganggapnya sebagai rekan sekerja. Ingat bahwa untuk berkhotbah dalam waktu 40 menit, pengkhotbah selalu mengambil dan menentukan satu perspektif tertentu, -satu saja. Oleh sebab itu jangan selalu membuat pernyataan-pernyataan miring setelah khotbah bahwa khotbah yang baru saja disampaikan kurang lengkap, tidak lengkap, begini dan begitu.

Ini juga berarti bahwa khotbahkan saja Yesus dan kebaikan Tuhan,  -bukan yang lain, oleh sebab itu tidak perlu juga menyinggung ajaran-ajaran iman/ keyakinan agama lain, atau juga hal-hal lain selain Yesus dan kebaikan Tuhan.

 

3. BERIKAN RESPON YANG BAIK, BUKAN STIGMA TERBALIK

Belajarlah untuk memberi respon yang baik di tengah jemaat atas khotbah rekan anda, sebuah respon yang baik, proporsional dan tidak berlebihan. Jangan selalu membuat ‘blunder‘ dengan stigma terbalik, -apa yang padahal telah dirumuskan dengan sederhana oleh rekan anda dalam khotbahnya, pada akhirnya anda stigmakan bahwa khotbah itu ‘sulit’ untuk dipahami jemaat, -namun sebaliknya, ketika anda yang berkhotbah dengan berbagai item istilah atau konsep yang rumit, pada akhirnya anda sendiri nyatakan dengan stigma bahwa itu mudah.

 

Pada akhirnya setiap orang perlu menguji dirinya masing-masing, apa motivasi utama ketika dia ada di mimbar dan berbicara di tengah jemaat? Untuk apa? Agar terpandang? Agar hasrat ‘didengar orang lain’ terpenuhi? Menunjukkan diri lebih hebat dari pelayan lain? Ataukah memang untuk menyampaikan Firman Tuhan kepada jemaat dengan tulus dan proporsional dengan semangat penggembalaan -bukan dengan “urakan.”